Minggu, 25 Juli 2010

2 Hari Pertama untuk Selamanya

(30 Mei 2010) Cuaca panas terasa menyengat ketika kaki ini menginjak sebuah tanah lapang nan jauh di sana. Ya, Polonia International Airport. Sebuah bandara yang dimiliki oleh kota Medan. Saya pun tercengang seketika.
“Wah, domestic arrival’nya jauh banget,” pikirku dalam hati.
Tak ada pilihan lain, aku pun memutuskan untuk jalan bersama seorang ibu yang entah siapa aku tak kenal. Yang pasti ibu itu tak jauh berbeda dengan aku. Mencari sebuah terminal yang dijuluki “Terminal Kedatangan Dalam Negeri”. Sepuluh menit berlalu, akhirnya aku menemukannya dan segera beranjak untuk bagasiku. Tas yang kubawa pun kutemukan. Segera aku keluar dari pintu bandara dan mengambil sebuah handphone dari sakuku yang telah mati selama dua jam.
Segera kuketik sebuah short message service ke sebuah nomor yang orangnya pun aku belum tahu.
“Mas, aku sudah sampai bandara,” tulisku dalam sms.
Tak selang lama, balasan pun aku terima.
“Tunggu bentar ya, masih perjalanan,” balasnya.
Badan pun sudah bercucuran keringat menahan tas punggung yang berat dan kondisi yang panas. Cukup lama saya menunggu di lobi. Namun, ada sesuatu yang menarik ketika menunggu. Kubuktikan ucapan temanku sebelum melalang buana ini. Ternyata memang benar ucapannya. Orang Medan suaranya keras, seperti orang marah kalau berbicara. Namun, tak terlalu kuhiraukan hal itu. Suara keras bukanlah suatu hal menakutkan, yang terpenting hati mereka baik. Mungkin suara keras itu menunjukkan sebuah keberanian dan kejujuran orang-orang Medan yang ternyata sangat heterogen ini.
Setelah beberapa menit saya menunggu, akhirnya seorang sahabat yang belum aku kenal wajahnya pun muncul. Sebelumnya aku hanya mengetahui nomor handphone dan namanya saja.
”Aku pakai sweater garis-garis dan celana pendek di depan ATM,” tulisnya di dalam sebuah pesan singkat.
Aku segera beranjak mencari letak ATM sembari membawa dua tas yang lumayan berat, entah apa saja yang bersembunyi di dalamnya. Tak berapa lama aku menemukan kawan baruku itu.
Kami pun segera melanjutkan perjalanan, sambil mengelilingi Medan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ternyata Medan lebih ramai dari kota asalku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan cuaca di sana panas. Mungkin karena dekat dengan khatulistiwa atau memang karena kotanya yang padat dan ramai. Entahlah.

Perjalanan lumayan lama. Tapi tak apalah, sambil melihat kiri kanan jalan dan kutemukan sebuah tulisan ”Waspada”, salah satu nama koran terkemuka di Medan.
Akhirnya kami pun memasuki sebuah pelataran kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU). Sambutan hangat dan ramah seketika muncul ketika memasuki sebuah sekre yang didindingnya tertempel tulisan ”Teropong”.

Langsung kami berkenalan.
”Wia,” ujar salah satu awak Teropong.
Ternyata saya merupakan peserta yang datang dengan urutan ketiga, setelah sebelumnya ada kawan dari Palembang dan Riau. Kami langsung bercengkerama dan bercerita mengenai apa saja, mulai dari perjalanan sampai keadaan kampus.

Matahari mulai menyembunyikan sinarnya ketika sudah memasuki pukul 18.00 WIB. Namun, pukul 18.00 WIB di sana belum memasuki waktu Maghrib. Hal ini sangat berbeda dengan daerahku.
”Disini Maghribnya 18.30,” ujar salah seorang kawan baru.
Malam pertama di Medan menjadi malam yang tak terlupakan. Inilah kali pertama saya naik sebuah kendaraan yang mungkin menjadi salah satu ciri khas kota Medan, yaitu bentor. Sebenarnya aku pernah mendengar tentang bentor dari seorang sahabat yang sekarang berdomisili di Gorontalo. Sebuah alat transportasi layaknya becak, namun tidak dikayuh oleh manusia melainkan motor.
Di depan kampus yang memberlakukan jam malam itu pun tawar-menawar ongkos terjadi. Tak berapa lama setelah tawar menawar, akhirnya si abang bentor pun setuju. Meluncurlah kami ke sebuah tempat di dekat lapangan Merdeka untuk mengisi perut yang telah protes karena kelaparan.
”Sate bumbu kacang, sate bumbu padang?” tanya si penjual.
Pilihan jatuh pada sate ayam bumbu padang. Tak berapa lama tibalah pesanan itu. Dan mungkin inilah satu ciri yang menandakan makanan orang Medan, pedas. Di depan gedung yang bertuliskan "Mandiri Kantor Wilayah I Medan" itu pun makan malam berlangsung sambil berbincang menggunakan logat Medan yang menurutku terlalu cepat. Selanjutnya malam dilanjutkan dengan plesir ke sebuah gedung yang dijuluki Lonsum. Bangunan dengan arsitektur yang masih asli dari zaman dulu. Foto-foto pun tak terhindarkan di Lonsum.
Malam semakin larut, keindahan pun semakin terlihat. Kerlap-kerlip lampu di jalan, di gedung seolah menandakan bahwa kota ini tak pernah tidur selama 24 jam. Bersama Wia, Harmal, Anas, Hera kami berjalan menuju lapangan. Terdapat sebuah keunikan dilapangan itu, yaitu alat fitness gratis. Tak berapa lama kami memutuskan untuk kembali ke markas dengan berjalan kaki. Entah berapa km yang kami lalui. Tepat di samping hotel Marriot kami memutuskan berhenti dan menunggu angkot lewat. Pergantian angkot pun terjadi dua kali sampai akhirnya sampailah kami di UMSU. Ketika badan sudah terasa letih setelah melakukan perjalanan dari Jawa lanjut keliling entah dimana saja yang aku tak tahu namanya, akhirnya kuputuskan untuk beristirahat.

Hari berganti. Acara pun dimulai. Siang itu hampir sama dengan hari-hari sebelumnya, udara terasa panas. Pembukaan acara berlangsung hingga hampir pukul 17.00. Selanjutnya langsung menuju tempat yang aku perkirakan jaraknya juga jauh, mess dinas pertanian. Tempat ini bersebelahan dengan asrama haji dan bandara Polonia. Pembagian kamar pun dilaksanakan. Terlihat unik ketika nama kamar menggunakan nama marga yang sebelumnya aku tak pernah mengenal nama-nama itu. Malam pertama di mess dilalui dengan perkenalan satu sama lain hingga waktu untuk menikmati bantal, kasur, dan kamar baru pun tiba. Bersama kawan baru, John Daniel, Daniel, Ihsan kami melepas semua lelah di sebuah tempat dengan nama ”Harahap Room”.

To be continue...
Best Regard
JTM

Sabtu, 10 April 2010

Don’t like mention the reasons


Life is a place when we do everything… We can do all of everything, whether it is positive or negative activities. But as a human we can make a decision wisely, what the best for us is. Don’t forget, we must remember that nobody’s perfect in the world. We must try to be a good and clever human. Looking for the experience in everymoment, everycondition, and everywhere. Because there are accompanying lesson on them. We can study about life from them…:D

Banyak sekali kegiatan-kegiatan yang sebenarnya dapat kita lakukan. Namun, terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Seolah-olah kita telah sibuk dengan apa yang menjadi konsen kita saat itu. Yang pada akhirnya nanti kita dapat menyesal karena tak cukup berbuat sesuatu sebelumnya. Janganlah kita menjadi lemah karena suatu rutinitas kita. Kita sering menggunakan alasan: capek, ngantuk atau apalah yang pada akhirnya akan menghambat kita untuk menjalankan aktivitas yang lain. Apalagi ketika kita tinggal jauh dari orang tua untuk menempuh (melanjutkan) pendidikan. Kita punya tanggung jawab yang besar terhadap orang tua karena mereka mati-matian dirumah untuk working hard demi memenuhi segala kebutuhan kita. Mereka tidak ingin kita yang berada di tanah perantuan ini kekurangan apapun, bahkan mereka sangat rela apabila mereka di rumah yang mengalami kekurangan asalkan kebutuhan kita di sini terpenuhi. Jadikanlah keadaan itu sebagai motivasi bagi kita untuk selalu menjadi yang terbaik diantara yang baik.

Jangan sampai keadaan tersebut kita gunakan sebagai alasan/ hambatan untuk menjadi yang terbaik. Ya, memang tak dapat dipungkiri, sebagai orang yang sudah dewasa pasti kita akan memikirkan tentang keadaan tersebut. Pasti muncul rasa kasihan terhadap orang tua. Namun, jangan sampai berlarut-larut. Ketika kita telah memutuskan suatu hal dan orang-orang dekat kita telah mendukung dan menyetujui maka kita harus menjalankan apa yang telah kita putuskan tersebut dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita membuat mereka kecewa. Tunjukan bahwa kita mampu merubah keadaan tersebut menjadi lebih baik.

Many reasons that we can mention, so try not use reasons… It’s not good for our life…
Because there are many reasons in the world…


Tidak ada salahnya ketika kita memang sangat capek dan letih, we need some rest. Karena dengan istirahat, positive energy will come back to our body so we can concentrate in our activities. Ya, tubuh manusia diibaratkan seperti mesin, yang selalu membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi-energi yang hilang. Namun, jangan karena terlalu keenakan istirahat kita lupa akan tugas dan tanggung jawab kita. Karena, untuk mencapai sukses itu memerlukan kerja keras, usaha, dan pengorbanan yang tidak sedikit bahkan terkadang kita harus mampu menyingkirkan tentang hal-hal yang kita sukai terlebih dahulu. Untuk mencapai sukses tidaklah semudah membalikkan telapak tangan yang mana bisa dilakukan dalam beberapa detik saja.

Janganlah terlalu lemah dalam menjalani aktivitas kita. Thinking positively that we will take the profit on future from it. Lakukan yang terbaik ketika kita masih mampu menjalankannya. Karena pasti akan selalu ada jalan ketika kita telah mencapai pada suatu titik yang sulit bermodalkan apa yang telah kita miliki. Namun, we must remember that we’ve God. Don’t because of being busy, we forget to pray. Don’t use it for reason not to pray…!!!

So do the best of us, when we can do it. The most important we must do it seriously for all everything and we must always try to do the best. So Keep Spirit guys, don’t give up!!!

Yours sincerely,
mico